17 Jun 2013

Tiga kali persucian


ini keputusanku, keputusanku ketika memaafkan telah  pupus.
Menghapus pilu dengan halus
Dulu tirakat pernah mengikat selama ini mulai pekat.
Amin yang sempat menyempat selip pada namamu kini telah tamat,
Jikalau sempat namun hanyalah singkat.
Sekarang sesela apapun itu ku menyempat dalam ingat. Karena mengingatmu itulah cara tersopanku untuk mengakat martabat yang ku sanggah.

Kini sepi yang ku tangguh.
Meminang beberapa anak-anak rindu yang ku gembala dalam pilu.
Dihalaman rumah ini, dulu kita bersatu. Berbagi kisah setiap aku pulang.
Tenang ada disana, disela beberapa helai rambut yang menutup kening. Hening dalam bening kecupan ku sempatkan.
Doamu hadir sebagai sekat, jauhku dari segala nekat.
Karbohidratku dalam segala tekad.

Dewasa keputusanku dalam persucian, kekanakanlah tabahku dalam menerima.
Padahal kau hadiah dari pencipta, namun aku gagal membalas kebaikanNya
Aku mulai menabung sepi, agar kebersamaan lagi tak terlalu mahal.
Aku hanya bisa menerima, dan ikhlas itu pilihan. Itu cara sederhanaku mengakali takdir.
Dan bila hadir senyummu bukan aku lagi alasanya, aku siap.

4 Jun 2013

Tanjakan Pertaobatan

Aku mulai menghela nafas
Membaca napak tilas sungai-sungai,
membelah gelap hutan rimba.
Seketika aku berada di ketinggian, terhuyung-huyung.
Di pandangku, kulihat orang-orang dari berbagai latar belakang memanggul lembar catatan yang semula disemayamkan.
Keangkuhan seakan larut dalam tempayan teh hangat, meluapkan putih kenangan bersama buih-buih.

Awan runtuh
Kabut menutupi berbagai tirakat janji
Dunia seperti sebuah almari
dan rahasia diantaranya saling menutupi, tersimpan rapi di dalam laci. Prasangka dan tekanan membuatnya terkunci.

Lembah-lembah yang ganjil, tebing jurang yang curam rawan, membuatku mencari pijakan.
Memang ia bisa lari bersama masalah.
Sementara aku sibuk berputar-putar di sudut pandang kawahku sendiri.
Kutinggalkan kasut, ku koyak lagi baju hangat rajut mesin.
Minyak hangat milikmu membuat ingatanku seperti penambang
yang lupa mengekalkan kebekuan pada batu-batu pijakan

Peradaban sirna sementara,
waktu membangun makam bagi diri sendiri.
Jutaan renik mengurai segala keterlanjuran,
mengubur kedegilan hati ini dalam-dalam.
Tak ada lagi kesah bagi tubuh yang lebam.
Dirikan tenda ambil jua. Agar prasangka tak perlu bertanya pada orang Lawu. 
Perkara siapa berani bersaing meluas tabah.

Prambanan, 4 Juni 2013