4 Jun 2013

Tanjakan Pertaobatan

Aku mulai menghela nafas
Membaca napak tilas sungai-sungai,
membelah gelap hutan rimba.
Seketika aku berada di ketinggian, terhuyung-huyung.
Di pandangku, kulihat orang-orang dari berbagai latar belakang memanggul lembar catatan yang semula disemayamkan.
Keangkuhan seakan larut dalam tempayan teh hangat, meluapkan putih kenangan bersama buih-buih.

Awan runtuh
Kabut menutupi berbagai tirakat janji
Dunia seperti sebuah almari
dan rahasia diantaranya saling menutupi, tersimpan rapi di dalam laci. Prasangka dan tekanan membuatnya terkunci.

Lembah-lembah yang ganjil, tebing jurang yang curam rawan, membuatku mencari pijakan.
Memang ia bisa lari bersama masalah.
Sementara aku sibuk berputar-putar di sudut pandang kawahku sendiri.
Kutinggalkan kasut, ku koyak lagi baju hangat rajut mesin.
Minyak hangat milikmu membuat ingatanku seperti penambang
yang lupa mengekalkan kebekuan pada batu-batu pijakan

Peradaban sirna sementara,
waktu membangun makam bagi diri sendiri.
Jutaan renik mengurai segala keterlanjuran,
mengubur kedegilan hati ini dalam-dalam.
Tak ada lagi kesah bagi tubuh yang lebam.
Dirikan tenda ambil jua. Agar prasangka tak perlu bertanya pada orang Lawu. 
Perkara siapa berani bersaing meluas tabah.

Prambanan, 4 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar