ini keputusanku, keputusanku ketika memaafkan
telah pupus.
Menghapus pilu dengan halus
Dulu tirakat pernah mengikat selama ini mulai
pekat.
Amin yang sempat menyempat selip pada namamu
kini telah tamat,
Jikalau sempat namun hanyalah singkat.
Sekarang sesela apapun itu ku menyempat dalam
ingat. Karena mengingatmu itulah cara tersopanku untuk mengakat martabat yang
ku sanggah.
Kini sepi yang ku tangguh.
Meminang beberapa anak-anak rindu yang ku
gembala dalam pilu.
Dihalaman rumah ini, dulu kita bersatu.
Berbagi kisah setiap aku pulang.
Tenang ada disana, disela beberapa helai
rambut yang menutup kening. Hening dalam bening kecupan ku sempatkan.
Doamu hadir sebagai sekat, jauhku dari segala
nekat.
Karbohidratku dalam segala tekad.
Dewasa keputusanku dalam persucian,
kekanakanlah tabahku dalam menerima.
Padahal kau hadiah dari pencipta, namun aku
gagal membalas kebaikanNya
Aku mulai menabung sepi, agar kebersamaan lagi
tak terlalu mahal.
Aku hanya bisa menerima, dan ikhlas itu pilihan.
Itu cara sederhanaku mengakali takdir.
Dan bila hadir senyummu bukan aku lagi
alasanya, aku siap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar