17 Jun 2013

Tiga kali persucian


ini keputusanku, keputusanku ketika memaafkan telah  pupus.
Menghapus pilu dengan halus
Dulu tirakat pernah mengikat selama ini mulai pekat.
Amin yang sempat menyempat selip pada namamu kini telah tamat,
Jikalau sempat namun hanyalah singkat.
Sekarang sesela apapun itu ku menyempat dalam ingat. Karena mengingatmu itulah cara tersopanku untuk mengakat martabat yang ku sanggah.

Kini sepi yang ku tangguh.
Meminang beberapa anak-anak rindu yang ku gembala dalam pilu.
Dihalaman rumah ini, dulu kita bersatu. Berbagi kisah setiap aku pulang.
Tenang ada disana, disela beberapa helai rambut yang menutup kening. Hening dalam bening kecupan ku sempatkan.
Doamu hadir sebagai sekat, jauhku dari segala nekat.
Karbohidratku dalam segala tekad.

Dewasa keputusanku dalam persucian, kekanakanlah tabahku dalam menerima.
Padahal kau hadiah dari pencipta, namun aku gagal membalas kebaikanNya
Aku mulai menabung sepi, agar kebersamaan lagi tak terlalu mahal.
Aku hanya bisa menerima, dan ikhlas itu pilihan. Itu cara sederhanaku mengakali takdir.
Dan bila hadir senyummu bukan aku lagi alasanya, aku siap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar